Sebut saja namanya Erin, seorang gadis sederhana dari Bukittinggi. Saya sudah cukup lama mengenalnya yaitu saat bergabung dengan International Pen Friends (IPF), sebuah group pertemanan pada waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan sampai saat ini dia adalah salah satu inspirasi kegigihan dalam menggapai mimpi.[caption id="attachment_122860" align="aligncenter" width="590" caption="The universe (from google)"][/caption]Terlahir dari keluarga sederhana dengan kedua orang tua bekerja sebagai pegawai negeri sipil, tidak membuat Erin besar kepala, apalagi kedua orangtuanya mempunyai jabatan yang lumayan dikantor bupati. Namun, kedua orangtuanya sudah menanamkan kejujuran dan kerja keras dalam dirinya sejak kecil, apalagi dia masih mempunyai 2 orang adik. Layaknya anak seorang pegawai negeri, dia tidak bisa sembarangan meminta apapun yang dia inginkan karena harus menunggu bulan baru dan juga urutan dalam skala prioritas. Keterbatasan ini menjadikan dia seorang anak yang kreatif dan ini tentu saja karena bimbingan serta arahan kedua orangtuanya.Saya masih ingat ketika dia bercerita bagaimana kedua orangtuanya menanamkan kedisiplinan dengan memberikan sepetak lahan dibelakang rumahnya. Lahan itu berukuran 4x4m. Kemudian dia dan kedua adiknya diminta berembuk menentukan tanaman apa yang akan ditanam disana. Setelah berembuk, maka mereka memutuskan untuk menanam tanaman semangka

Sebut saja namanya Erin, seorang gadis sederhana dari Bukittinggi. Saya sudah cukup lama mengenalnya yaitu saat bergabung dengan International Pen Friends (IPF), sebuah group pertemanan pada waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan sampai saat ini dia adalah salah satu inspirasi kegigihan dalam menggapai mimpi.

The universe (from google)


Terlahir dari keluarga sederhana dengan kedua orang tua bekerja sebagai pegawai negeri sipil, tidak membuat Erin besar kepala, apalagi kedua orangtuanya mempunyai jabatan yang lumayan dikantor bupati. Namun, kedua orangtuanya sudah menanamkan kejujuran dan kerja keras dalam dirinya sejak kecil, apalagi dia masih mempunyai 2 orang adik. Layaknya anak seorang pegawai negeri, dia tidak bisa sembarangan meminta apapun yang dia inginkan karena harus menunggu bulan baru dan juga urutan dalam skala prioritas. Keterbatasan ini menjadikan dia seorang anak yang kreatif dan ini tentu saja karena bimbingan serta arahan kedua orangtuanya.

Saya masih ingat ketika dia bercerita bagaimana kedua orangtuanya menanamkan kedisiplinan dengan memberikan sepetak lahan dibelakang rumahnya. Lahan itu berukuran 4x4m. Kemudian dia dan kedua adiknya diminta berembuk menentukan tanaman apa yang akan ditanam disana. Setelah berembuk, maka mereka memutuskan untuk menanam tanaman semangka dengan pertimbangan bisa dipanen dengan cepat dan menjualnya tidak begitu sulit. Ayah ibunya kemudian membelikan benih semangka, serta buku petunjuk bagaimana merawatnya dan membiarkan ketiga kakak adik ini berbagi tugas.

Erin selaku koordinator berembuk tentang pembagian tugas, yang bersekolah dipagi hari akan merawat kebun disore hari, begitu sebaliknya jika bersekolah disiang hari maka kewajibannya ditunaikan dipagi hari. Tanggung jawab atas sebidang tanah yang ditumbuhi tanaman semangka ini, menurut Erin, bukan saja mengajarkan kedisiplinan namun juga kesabaran, ketelatenan dan juga manajemen waktu. Dan ketika dia dan adik-adiknya sukses merawat tanaman ini hingga berbuah, mereka juga berhasil menambah pundi-pundi tabungan mereka tanpa harus meminta pada orang tua. Yang pasti, menghasilkan uang dari kerja sendiri menjadikan mereka belajar arti uang yang mereka peroleh sehingga mengajar mereka bijak dalam menggunakannya